Sistem Informasi Desa Kalicupak Lor
Desa Kalicupak
Lor pada mulanya konon berdiri pemerintahan diperkirakan pada tahun 1905 karena
pada waktu itu Desa Kalicupak merupakan
suatu grumbul atau perkampungan yan di dalamnya terdapat penduduk/masyarakat,
budaya, ekonomi dan belum memiliki pemimpin yang memimpin grumbul tersebut
dikarenakan pada waktu itu masih dalam era penjajahan bahkan mungkin belum
memiliki nama grumbul tersebut dan Negara Kesatuan Republik Indonesia waktu itu
belum merdeka dimana penjajah masih menguasai negeri tercinta ini dengan cara-cara
yang sifatnya membodohi bangsa Indonesia umumnya dan grumbul Kalicupak
khususnya.
Dengan perubahan peradaban zaman kala itu dengan sumpah patih gajah mada yang ingin menyatukan nusantara dan putra putri bangsa negeri ini melawan penjajah walau dengan menggunakan sepotong bambu runcing untuk mengusir penjajah sehingga banyak abdi dalem keratin yang sembunyi-sembunyi berjuang untuk menjadi telik sandi keratin untuk mengintai kegiatan-kegiatan para penjajah termasuk leluhur yang ada di grumbul Kalicupak. Konon katanya merupakan ki Demang Abdi Dalem dari Yogyakarta yang lari dikejar penjajah dan bersembunyi di daerah Srandil, kendalisada, bahkan masuk ke daerah Suro yang mengakhiri perjalanan hidupnya tinggal di grumbul / Desa Kalicupak berdampingan dengan gadis yang solekhah karena menolong diwaktu bertapanya di daerah Suro dan Kalicupak. Kegiatan sehari-hari sebagai pemancing ika, memantau penjajah dan beliau dihormati dan disegani oleh masyarakat karena merupakan Abdi Dalem Keraton dan pada waktu itu diharapkan adanya seorang pemimpin di grumbul/desa tersebut. Dari beberapa masyarakat ada yang dijagokan oleh penjajah, namun masyarakat grumbul tersebut yang mengharapkan kemerdekaan mengusulkan menunggu beliau supaya dicari siapa gerangan yang dimaksud adalah SOMATIRTA. Dan begitu beliau ada, warga masyarakat grumbul tersebut mengekor dibelakangnya yang bertanda bahwa masyarakat memilih beliau untuk menjadi pemimpinnya di grumbul tersebut dengan nama desa Kalicupak sebelah lor sehingga disebut Desa Kalicupak Lor.
SOMATIRTA
mengawali kepemimpinan grumbul tersebut dengan nama grumbul / desa Kalicupak
Lor. Entah Bagaimana ceritanya Kalicupak terbagi menjadi 2 (dua) yaitu Kalicupak Lor dan
Kalicupak Kidul, dimana kepemimpinannya dipegang oleh kakak beradik sehingga
keharmonisan hubungan antar desa Kalicupak Lord an Kalicupak Kidul sudah
diawali dari nenek moyang kita sebelum adanya kemerdekaan Republik Indonesia.
Saat ini masyarakat Desa Kalicupak Lor memiliki leluhur sendiri dan Kalicupak
Kidul sudah memiliki leluhur sendiri dimana leluhur tersebut merupakan Punden
Masyarakat yang selalu dihormati dan dihargai dari factor perjuanganya untuk
masing-masing desanya. Menurut cerita mengapa disebut Desa Kalicupak Lor adalah
Kali berarti Air yang mengalir dan dapat dimanfaatkan oleh orang banyak untuk
keperluan-keperluan hidup dan dapat diartikan suatu keberkahan yang datangnya
dari Ilahi Robbi, Cupak memiliki konotasi arti Tidak membohongi, Hati-hati, Ojo
Dumeh, Ketetapan Ilahi, Cukup Papak / Pas bahkan punya nilai arti lain dan
hakekatnya baik sehingga bila digabungkan makna dari Kalicupak adalah “
KECUKUPAN YANG DIBERKAHI DIRIDOI OLEH ILLAHI ROBBI “. Bila nanti masyarakat
tidak memiliki rasa sombong dengan sesama dan penciptanya. Itu semua analisa
penulis yang mungkin banyak salahnya tapi mungkin ada benarnya karena Desa
Kalicupak Lor telah kehilangan Obor / Sesepuh yang dapat menceritakan sejarah
Desa Kalicupak Lor dengan benar. Hal ini tidak menjadi buntu tentang sejarah
yang ada di Grumbul / Desa Kalicupak Lor.
Pemimpin Desa Kalicupak Lor seyogyanya orang yang dapat mengayomi
masyarakat mendorong masyarakat untuk maju dan mengutamakan kepentingan umum
diatas kepentingan pribadinya dengan nawaitunya Ibadah kepada Allah yang
memiliki 99 Dzat Agung jumlahnya dan yang terindah karena tidak ada yang bisa
menandinginya atas Kodrat IradatNya.